Rabu, 02 November 2011

1. Problem/Masalah

a. Pengertian Problem/Masalah
Barangkali secara umum orang memahami masalah (problem) sebagai kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Namun dalam matematika, istilah “problem” memiliki makna yang lebih khusus. Kata “Problem” terkait erat dengan suatu pendekatan pembelajaran yaitu pendekatan problem solving. Dalam hal ini tidak setiap soal dapat disebut problem atau masalah. Ciri-ciri suatu soal disebut “problem” dalam perspektif ini paling tidak memuat 2 hal yaitu:
1. soal tersebut menantang pikiran (challenging),
2. soal tersebut tidak otomatis diketahui cara penyelesaiannya (nonroutine).
Becker & Shimada (dalam McIntosh, R. & Jarret, D., 2000:5) menegaskan hal ini sebagai berikut:
Genuine problem solving requires a problem that is just beyond the student’s skill level so that she will not automatically know which solution method to use. The problem should be nonroutine, in that the student perceives the problem as challenging and unfamiliar, yet not insurmountable.
Masalah adalah rintangan, hambatan, kesulitan atau tantangan, atau situasi yang mengundang resolusi; resolusi yang diakui sebagai solusi atau kontribusi terhadap tujuan yang dikenal atau tujuan. Masalah menyiratkan hasil yang diinginkan digabungkan dengan keraguan, kekurangan jelas atau inkonsistensi yang mencegah hasil dari mengambil tempat.
Menurut penulis, masalah merupakan suatu anugerah dimana dengan adanya masalah membuat kita semakin lebih dewasa, menambah suatu pembelajaran atau wawasan, lebih mengenal siapa diri kita sebenarnya dan membuat kita lebih mengenal serta mensyukuri arti kehidupan ini.





b. Kriteria Problema Manusia
Menurut Robert K. Merton dan Robert A. Nisbet, dalam menentukan bahwa suatu masalah merupakan problema sosial atau tidak, digunakan beberapa pokok persoalan sebagai ukuran, yaitu sebagai berikut ini:
a. Kriteria Utama
Kriteria utama suatu masalah sosial yaitu tidak adanya penyesuaian antara ukuran-ukuran dan nilai-nilai sosial dengan kenyataan-kenyataan serta tindakan-tindakan sosial. Adanya kepincangan-kepincangan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi, dengan apa yang terjadi dalam kenyataan pergaulan hidup. Misalnya, apabila dalam satu bulan terjadi pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh 400 orang dari 10.000 orang penduduk sebuah kota, hal ini belum tentu merupakan masalah sosial, hal ini tergantung dengan nilai-nilai sosial masyarakat yang bersangkutan.
b. Sumber-Sumber Masalah Sosial
Masalah sosial merupakan persoalan-persoalan yang timbul secara langsung dari atau bersumber langsung pada kondisi-kondisi maupun proses-proses sosial. Jadi sebab-sebab terpenting masalah sosial harus bersifat sosial. Jadi kejadian-kejadian yang tidak bersumber pada perbuatan manusia bukanlah merupakan masalah sosial.
c. Pihak yang Menetapkan Masalah Sosial
Dalam masyarakat masalah sosial merupakan gejala yang wajar. Apabila terdapat sekelompok warga masyarakat menjadi pimpinan masyarakat tersebut, maka sekelompok warga masyarakat tersebut mempunyai kekuasaan dan wewenang yang lebih besar dari orang lain untuk membuat serta menentukan kebijaksanaan sosial. Setiap manusia sesuai dengan kedudukan dan perannya dalam masyarakat, mempunyai nilai dan kepentingan-kepentingan yang berbeda. Sikap masyarakat itu sendirilah yang menentukan suatu gejala merupakan suatu problema sosial atau tidak.
d. Manifest Social Problem dan Latent Social Problem
Manifest social problems merupakan masalah social yang timbul sebagai akibat terjadinya kepincangan-kepincangan dalam masyarakat, yang dikarenakan tidak sesuainya tindakan dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Pada umumnya masyarakat tidak menyukai tindakan-tindakan
yang menyimpang. Latent social problems juga menyangkut hal-hal yang berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat, akan tetapi tidak diakui demikian. Sehubungan dengan hal tersebut, sosiologi tidaklah bertujuan membentuk manusia-manusia yang bijaksana dan selalu baik dalam tindakan-tindakannya, tetapi untuk membuka mata agar mereka memperhitungkan akibat segala tindakannya.
e. Perhatian Masyarakat dan Masalah Sosial
Kejadian yang merupakan masalah sosial belum tentu mendapatkan perhatian sepenuhnya dari masyarakat. Sebaliknya suatu kejadian yang mendapatkan sorotan masyarakat, belum tentu merupakan masalah sosial. Angka pelanggaran lalu lintas mungkin tidak terlalu diperhitungkan masyarakat, tetapi suatu kecelakaan kereta api yang meminta korban manusia mendapat sorotan masyarakat. Sosiologi mendorong masyarakat untuk memperbaiki kepincangan-kepincangan yang diterima sebagai gejala abnormal yang mungkin dihilangkan atau dibatasi.

2. Workaholic

a. Pengertian Workaholic
Workaholic adalah keadaan dimana orang kecanduan kerja, terobsesi untuk terus bekerja, mempunyai dorongan yang kuat untuk terus bekerja, menghabiskan waktu lebih banyak untuk bekerja dengan mengorbankan waktu untuk hal lain, sangat menyukai bekerja, melebihi tuntutan perusahaan dan kebutuhan akan keuangan. Jadi meskipun dari hanya mensyaratkan jam kerja sekian orang tersebut akan terus bekerja meskipun sudah melebihi dari jam kerja yang disyaratkan pekerjaan. Bukan karena kebutuhan ekonomi yang menuntutnya bekerja lebih lama. Yang menjadi tekanan adalah orang tersebut memang melakukan karena ada dorongan dari dalam diri dan dia menikmatinya. Meskipun pada akhirnya dia mengorbankan waktu untuk bersosialisasi, bersantai, atau melakukan hal lain. Ungkapan ini tidak selalu ditujukan pada orang yang benar-benar menikmati pekerjaan mereka, tetapi juga pada orang-orang yang lebih hanya merasakan dipaksa untuk melakukannya. Sebenarnya tidak ada definisi medis yang berlaku secara umum tentang kondisi seperti itu.

Walaupun istilah workaholic pada umumnya mempunyai suatu konotasi pada hal-hal yang bersifat negatif, kadang-kadang digunakan juga oleh orang-orang yang mengharapkan untuk menyatakan devosi mereka ke karier seseorang dalam terminologi positif.

b. Ciri-Ciri Workaholic
Ada 5 ciri seseorang dikategorikan sebagai seorang workaholic, yaitu:
1. Keasyikan dengan pekerjaan.
Workaholic biasanya memiliki kesulitan meninggalkan kantor sementara rumah atau dalam situasi sosial dan tidak mampu "menghidupkan bekerja di luar", kata Dr Robinson, yang mengatakan ia adalah workaholic pulih. Pecandu kerja biasanya tidak nyaman menggunakan hari sakit atau pergi berlibur. Ketika berlibur, para workaholic membawa serta pekerjaan yang harus dilakukan.
2. Ketidaknyamanan dalam mendelegasikan.
3. Abaikan aspek lain dari kehidupan mereka.
Seringkali pecandu kerja menempatkan pekerjaan sebelum keluarga mereka dan kehidupan pribadi. Dr Robinson mengatakan banyak pasien kelak menyesal tidak menghadiri acara-acara mereka tidak terjawab atau melakukan hal-hal yang mereka dilewati selama pergolakan obsesi mereka dengan pekerjaan. Hari pemakaman ayahnya, misalnya, Pak Robinson mengatakan, ia menemukan dirinya kembali bekerja di kantornya setelah menghadiri layanan bukannya mengambil beberapa waktu off untuk berduka.
4. Menggabungkan bagian lain dari kehidupan mereka ke dalam pekerjaan.
5. 'Menyelinap' bekerja.

c. Dimensi Workaholic
Dimensi workaholic dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Dimensi Afektif
Orang yang workaholic akan sangat menikmati bekerja dan akan mempunyai perasaan cemas dan bersalah jika tidak bekerja, meskipun pada hari libur.

2. Dimensi Kognitif
Orang yang workaholic cenderung akan terobsesi bekerja. Setiap waktu, setiap saat yang ada dalam pikirannya adalah bekerja.
3. Dimensi Perilaku
Orang yang workaholic akan menghabiskan waktu yang berlebihan untuk bekerja. Biasanya sampai mengorbankan waktu pribadinya untuk bekerja. Bahkan juga waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat. Selain itu orang yang workaholic akan sulit memisahkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

d. Faktor yang Mempengaruhi Seseorang Menjadi Workaholic
Beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi workaholic diantaranya :
1. Harga diri.
Harga diri yang tinggi dapat menyebabkan orang menjadi workaholic. Karena akan mendorongnya untuk terus menjadi yang terbaik.
2. Tipe kepribadian
3. Nilai dalam diri
4. Lingkungan keluarga dan kehidupan keluarga yang stressful dan tidak berfungsi dengan baik.
Lingkungan keluarga yang bermasalah dan tidak berfungsi dengan baik akan dapat mendorong menjadi workaholic karena orang tersebut akan lebih nyaman menghabiskan waktu untuk bekerja.
5. Merasa lebih mampu menghadapi masalah dalam pekerjaan dibanding masalah keluarga.
6. Kompetisi dari rekan kerja.
Kompetisi yang tinggi dari rekan kerja akan membuat orang lebih workaholic.
7. Reward yang diterima dari lingkungan, dapat berupa kenaikan jabatan, pengakuan dari rekan kerja atau atasan, pujian dari orang lain.
8. Menjadi orang yang selalu diandalkan untuk mengerjakan semua hal oleh atasannya.
9. Lingkungan perusahaan tempat bekerja



e. Dampak dari Workaholic
Dampak positif workaholic:
1. Kepuasan kerja
Orang yang workaholic akan lebih puas dalam bekerja. Terutama ketika semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik.

2• Kepuasan karir
Karena terobsesi untuk bekerja dan perfeksionis dalam pekerjaan maka atasan akan menjadi puas dengan pekerjaan orang tersebut. Hal ini akan mendorong karirnya.
Dampak negative workaholic :
1• Kesehatan mental memburuk
2• Perfeksionis
3• Ketidakpercayaan terhadap rekan kerja
4• Kehidupan sosial buruk
5• Kesehatan memburuk

2.Kredibilitas

a. Pengertian Kredibilitas
Dalam Kamus Wikipidia, kredibilitas adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Aplikasi umum yang sah dari istilah kredibilitas berkaitan dengan kesaksian dari seseorang atau suatu lembaga selama persidangan
Kredibilitas yang berasal dari kata “Credible” yang artinya dapat di percaya, sementara Credibility artinya kepercayaan atau keadaan dapat di percaya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kredibilitas adalah Kepercayaan. Kredibilitas yang baik sangat dibutuhkan oleh setiap orang baik dilingkungan yang paling kecil yaitu keluarga maupun yang paling besar yaitu organisasi/ pemerintah./ masyarakat. Kredibilitas terbentuk berdasarkan beberapa kejadian sehingga terakumulasi membentuk suatu rangkuman analisa terhadap diri seseorang atau individu. Kredibilitas ini tidak mengenal pangkat, jabatan, status seseorang dan lain sebagainya.
Kredibilitas merupakan salah satu landasan untuk kepemimpinan yang produktif dalam arti membangun suatu reputasi yang melekat pada efektivitas pribadi positip dengan rujukan prinsip “membina persamaan dan membangkitkan kepercayaan.

b. Ciri-Ciri Kredibilitas
Orang yang memiliki kredibilitas yang tinggi, tidak jarang memiliki dampak seperti ungkapan dibawah ini:
1. Dengan senang hati mereka akan bercerita kepada orang lain bahwa keberadaan mereka adalah bagian dari organisasi.
2. Memiliki kesamaan persepsi dan keyakinan bila berada dalam tim.
3. Memiliki percaya diri yang sejalan dengan budaya perusahaan yang dianut.
4. Memberikan komitmen atas dasar pengorbanan diri pada organisasi.
Sedangkan bila keadaan sebaliknya orang yang memiliki kredibilitas yang rendah, maka wujud yang diungkapkan biasanya dalam bentuk skandal, penghianatan dan kekecewaan.

c. Faktor yang Mempengaruhi Kredibilitas
Faktor yang mempengaruhi kredibilitas yaitu :
1. Intensitas
Intensitas dalam dimensi kredibilitas merupakan unsur utama dalam memahami, meyakini dan menyepakati tujuan dan aspirasi yang berkembang sebagai perekat bagi proses memperkuat kredibilitas.Dengan demikian, maka intensitas akan ada dan bersemi sangat tergantung pada budaya yang dapat menyatukan kedalam sikap positif yang dirasakan sangat mendalam sejalan dengan kualitas kedewasaan intelektual, emosional, sosial dan rohaniah. Jadi budaya organisasi yang kuat, dirasakan secara intensif, maka akan ada konsistensi yang lebih besar antara kata-kata dan perbuatan, dengan begitu akan tumbuh dan bersemi kepercayaan diri sebagai sumber sukses dan kemandirian.
Jadi intensitas menggambarkan suatu keadaan yang bergelora dan dinamis yang dituntun oleh kesepakatan bersama mengenai budaya organisasi yang kuat dimana setiap warga menerima rumusan formal yang berkaitan dengan nilai, norma, wewenang dan ganjaran sebagai pedoman perilaku interaksi ke dalam organisasi.
2. Kejelasan
Kejelasan dalam dimensi kredibilitas merupakan unsur pendukung dalam proses pembentukan kredibilitas melalui adanya kejelasan-kejelasan mengenai konsep diri dalam memandang keinginan dan kebutuhan, keseimbangan kepentingan, aspirasi yang berkembang dari pemimpin dan pengikut.
Dengan adanya kejelasan, berarti mampu memberikan arah kepada individu, kelompok dan organisasi dalam merealisasikan cita-cita yang diharapkan bersama. Jadi dengan adanya kejelasan, maka kita akan dibimbing kearah kemampuan anda untuk berjalan, tidak lagi berpura-pura yakin secara berlebihan artinya, anda harus jujur pada cara anda mengesampingkan kegelisahan diri.
Kejelasan dapat melahirkan percaya diri melalui proses keyakinan atas kewibawaan anda sendiri, serta Rasa percaya diri tidak tumbuh begitu saja tapi melalui suatu proses dari keyakinan diri pada kemampuan anda melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan.
Jadi dengan adanya kejelasan, diharapkan kepemimpinan yang produktif mempengaruhi orang lain akan dapat menimbulkan yang disebut dengan :
a. Terbentuknya komitmen yang datang dari dalam diri sendiri, bukan sesuatu yang dipaksakan.
b. Adanya pintu yang terbuka dalam berbagi wawasan.
c. Terbentuknya kemampuan untuk menjalankan konseling.
d. Terbentuknya kemampuan untuk mengembangkan yang disebut pemberdayaan diri.
e. Adanya keyakinan dan kepercayaan untuk melakukan yang benar.
f. Terbentuknya partisipasi dengan suka rela
g. Adanya kesiapan untuk mengikuti perubahan yang berencana
h. Adanya kesiapan untuk mendengarkan pandangan orang lain
i. Adanya kesiapan untuk mengakui kelemahan diri sendiri ; dsb.



3. Kesatuan
Kesatuan dalam demensi kredibilitas merupakan unsur dalam proses untuk dapat menyatukan kesamaan persepsi dalam mewujudkan kebersamaan bertindak. Dengan percaya diri, maka mereka menyadari sepenuhnya bahwa kredibilitas dapat terbentuk dengan dukungan kesatuan untuk perjuangan bersama. Kesatuan dalam arah kemana akan pergi dan mengapa kesana serta landasan apa yang akan diterapkan.
Jadi kepribadian yang produktif yang diperankan oleh kepemimpinan dengan percaya diri akan mendorong terbentuknya kesatuan, dimana semua pihak secara sadar dapat memahami, meyakini dan menyetujui atas semua gagasan yang terkait untuk mencapai tujuan bersama.
Oleh karena itu kesatuan memiliki sifat saling terikat dengan intensitas dan kejelasan dalam mewujudkan kredibilitas, sehingga dapat pula dikemukakan dengan kata lain bahwa kesatuan merupakan landasan yang kuat untuk menumbuhkan budaya kebersamaan dalam bertindak.
Dengan kesatuan dalam memandang segala sesuatu perubahan yang sedang dan yang akan datang memerlukan kekuatan berpikir untuk merubah ketidakpastian menjadi yang pasti artinya berpikir dari yang tidak tahu menjadi tahu diharapkan dapat menuntun kesediaan untuk berubah, sehingga ia dapat menjadi alat untuk menyatukan sikap dan perilaku yang didasarkan kepada kepemimpinan bukanlah sekedar menggunakan kekuasaan dan wewenang melainkan kemampuan memperdayakan orang.

3. Hubungan Antara Workaholic dengan Kredibilitas
Baru – baru ini diketemukan penelitian yang menyebutkan bahwasannya para pecandu woraholic tidak selamanya mengalami berbagai macam masalah kesehatan. Adalah Australia dan Kanada yang mempresentasikan penelitian tersebut di konferensi 'Stress and Anxiety Research' di Melbourne menunjukkan ada workaholik yang tetap sehat dan bahagia.
"Bekerja untuk waktu lama tak akan membunuh. Sebenarnya, mengapa dan bagaimana Anda bekerja yang menghasilkan tragedi atau kesenangan," kata salah satu penelitinya, Ronald Burke, profesor School of Business di York University, Kanada, seperti dikutip The Sydney Morning Herald (16/7).

Ketika seseorang dilanda workaholic mereka akan merasa akan sangat meningkatkan kredibitas dari perusahaan tempat dirinya bekerja, hal itu akan sangat berpengaruh pada kariernya yang terus akan mengami kemajuan.

Antara workaholic dengan kredibilitas sangat berpengaruh terhadap kemajuan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya, dia akan sangat mudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perusahaannya ketika antara workaholic dengan kredibilitas dijalankan secara bersama-sama. Bisa diartikan bahwa salah satu upaya untuk mendapatkan kredibilitas dari orang lain ataupun dari perusahaan tempat bekerja adalah dengan menerapkan prinsip workaholic karena dengan terus dan terus bekerja kita akan bisa mendapatkan kepercayaan lebih untuk bisa mempertahankan pekerjaan kita atau justru meningkatkan pekerjaan ke yang lebih baik dari sebelumnya.


4. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka diatas , maka dalam penelitian ini dapat ditarik hipotesis “Ada hubungan kearah yang positif antara Workaholic dengan Kredibilitas Semakin tinggi tingkat workaholic pada seseorang maka akan semakin tinggi pula kredibilitas seseorang dalam bekerja sehingga akan sangat berpengaruh pada kariernya yang akan terus mengalami kemajuan.”













BAB III
METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian

Variablel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Prediktor : kredibilitas
2. Kriterium : workaholic

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Workaholic
Workaholic adalah keadaan dimana orang kecanduan kerja, terobsesi untuk terus bekerja, mempunyai dorongan yang kuat untuk terus bekerja, menghabiskan waktu lebih banyak untuk bekerja dengan mengorbankan waktu untuk hal lain, sangat menyukai bekerja, melebihi tuntutan perusahaan dan kebutuhan akan keuangan
2. Kredibilitas
Kredibilitas adalah Kepercayaan. Kredibilitas yang baik sangat dibutuhkan oleh setiap orang baik dilingkungan yang paling kecil yaitu keluarga maupun yang paling besar yaitu organisasi/ pemerintah./ masyarakat. Kredibilitas terbentuk berdasarkan beberapa kejadian sehingga terakumulasi membentuk suatu rangkuman analisa terhadap diri seseorang atau individu.

Daftar Pustaka
1. Johnson, M. 2011. Hal yang Perlu Anda Tahu Tentang Workaholic. http://www.articlesbase.com/time-management-articles/things-you-need-to-know-abo ut-workaholic-54162.html. 15 Oktober 2011.
2. Yudie. 2009. Workaholic. http://yudie-unforgetable.blogspot.com/2009/06/worka holic-adalah-istilah-yang.html. 14 Oktober 2011.
3. Ari. 2009. Definisi Workaholic. http://arijimoo.blogspot.com/2009/06/definisi-worka holic.html. 13 Oktober 2011.
4. Primpram. 2009. Workaholic. http://ompimpram.wordpress.com/2009/09/07/worka holic/. 12 Oktober 2009.
5. Johnson, S. 1998. Who Moved My Cheese. Jakarta: Elex Media Komputindo.
6. Handono, R. S. 2006. Analisis Pengaruh Kredibilitas Endorser Dan Kreatifitas Iklan Terhadap Efektivitas Iklan Yang Mempengaruhi Sikap Terhadap Merek. Jurnal Manajemen. http://eprints.undip.ac.id/15853/1/Rudolph_S_Handoko.pdf. 17 Oktober 2011
7. Siregar, I. R. 2008. Pengaruh Karakteristik Organisasi Terhadap Motivasi Kerja Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Di Kota Medan Tahun 2008. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21611/3/Chapter II.pdf , diakses 15 Oktober 2011

1 komentar:

  1. maaf boleh nanya ga? kebetulan saya sedang melakukan penelitian tentang workaholik. Kalau boleh tau mengenai ciri-ciri, dimensi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi workaholik anda dapat referensi dari jurnalnya siapa ya? Kalau boleh, saya mau tau siapa penulis jurnal itu, judul, dan kategori jurnalnya apa. Terimakasih sebelumnya.










    BalasHapus